Back To Top

Senin, 27 Juni 2016

Kemenag-USAID sinergi persiapkan calon guru profesional

Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menggandeng Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) PRIORITAS untuk meningkatkan mutu penyiapan calon guru profesional di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

“Kami akan mereformasi proses penyiapan calon guru di LPTK PTKIN. Ke depan, lulusan LPTK PTKIN diharapkan lebih siap menjadi guru profesional untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah dan sekolah,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag  Kamaruddin Amin di sela diskusi dengan para Dekan Tarbiyah UIN/IAIN se-Indonesia untuk mendapat masukan dalam menyusun grand desaign rencana reformasi LPTK PTKIN di Bogor, Rabu.

Kamaruddin mengakui masih adanya kesenjangan antara teori dan konten yang diajarkan di kampus dengan praktik di madrasah dan sekolah. Hal ini berakibat adanya penilaian bahwa proses perkuliahan dan pelatihan di kampus kurang relevan, kurang menarik, serta kurang menantang dan mendukung peningkatan mutu pembelajaran. 

“Ada anggapan yang berlaku di masyarakat, jika kualitas guru menurun, maka yang disalahkan adalah LPTK. Hal ini wajar menjadi keluhan karena kampus sebagai penyelenggara LPTK seringkali tidak senafas dengan inovasi di lapangan yang menekankan praktik,” tuturnya.

Menurut guru besar Universitas Alaudin Makassar itu, program reformasi LPTK Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri ini akan mengambil praktik baik yang sudah dikembangkan USAID PRIORITAS. Ada tiga hal utama yang dikembangkan dalam rangka reformasi LPTK PTKIN tersebut.

Pertama, menyusun grand desaign reformasi LPTK yang akan dimulai pada tahun 2017. Kedua, seluruh dosen Fakultas Tarbiyah akan dilatih memfasilitasi perkuliahan dengan pendekatan yang lebih menekankan pada praktik.

Ketiga, mengembangkan madrasah lab mitra LPTK PTKIN untuk menjadi tempat praktik mengajar yang baik bagi mahasiswa.

Kemenag juga tengah menyiapkan 100 madrasah model yang akan menjadi mitra LPTK dalam menyiapkan calon guru profesional. Harapannya, bila mahasiswa praktik mengajar di madrasah yang telah menerapkan pembelajaran yang baik, maka dia memiliki pengalaman mengajar yang baik sehingga nantinya juga akan menjadi guru yang baik.  Terutama dengan panduan terbimbing dari dosen pembimbing lapangan dan guru pamong bagi mahasiswa.

Sementara itu, Lynne Hill, Adviser Teaching and Learning USAID PRIORITAS, menyampaikan dukungannya untuk rencana reformasi LPTK PTKIN Kemenag.

“Kami sudah bekerja sama dengan LPTK untuk menyiapkan fasilitator yang melatih dosen LPTK, melatih dan mendampingi madrasah mitra LPTK untuk tempat praktik mengajar mahasiswa, dan mengembangkan modul dan buku sumber perkuliahan.

Dari langkah ini, kami berharap dapat meningkatkan kualitas perkuliahan penyiapan calon guru di LPTK PTKIN,” kata dia dalam penjelasannya di acara diskusi tersebut.

Ajar Budi Kuncoro, University and Stakeholder Coordination Senior Manager USAID PRIORITAS menambahkan, sejak tahun 2013 hingga saat ini kemitraan USAID PRIORITAS dan 17 LPTK telah berjalan di delapan provinsi, yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat.

Termasuk di dalamnya, 7 LPTK PTKIN, yakni: UIN Ar-Raniry Aceh, IAIN Sumatra Utara, UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, IAIN Walisongo Semarang, UIAN Sunan Ampel Surabaya, dan UIN Alaudin Makassar.

Menurut Ajar Budi, ada 289 MI dan MTs mitra yang mendapatkan pelatihan dan pendampingan USAID PRIORITAS, serta lebih dari 4.000 madrasah melakukan diseminasi pelatihan dengan dana APBD maupun dan BOS.

“Kami telah mengembangkan beberapa program untuk mendukung peningkatan mutu LPTK, di antaranya melalui integrasi LPTK dengan sekolah/madrasah, melatih dosen LPTK dalam meningkatkan kualitas perkuliahan pada lima mapel pokok (IPA, bahasa Inggris, IPS, matematika, dan bahasa Indonesia/Literasi) dan manajemen berbasis sekolah sehingga yang disampaikan dalam perkuliahan relevan dengan kebutuhan pembelajaran dan manajemen di sekolah,” ujarnya.

“Selain itu, meningkatkan kualitas program pendidikan profesi guru (PPG) dan praktik pengalaman lapangan (PPL); serta membuat program penelitian tindakan kelas antara guru dan dosen untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas,” tambahnya.

Menurut Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) IAIN Pontianak, Lailial Muhlifah, yang menjadi salah seorang peserta, pengembangan madrasah lab atau madrasah mitra LPTK sangat diperlukan untuk mendukung penyiapan calon guru yang berkualitas oleh LPTK PTKIN.

“Kita bisa memberikan pengalaman yang baik bagi mahasiswa calon guru, saat praktik mengajar di madrasah lab atau madrasah mitra. Kita perlu menyiapkan hal ini secara baik,” tukasnya.

Sementara Dekan FTK UIN Walisongo, menyebut pentingnya pelatihan praktik pengalaman lapangan (PPL) yang melibatkan dosen pendamping lapangan, guru pamong, dan kepala madrasah sehingga pelaksanaan program PPL untuk mahasiswa dapat optimal dengan pendampingan terbimbing dari dosen dan guru pamong.

“Kita bisa mengembangkan seperti pengalaman USAID PRIORITAS,” tukasnya. antaranews.com